BRMP Bengkulu dan BMKG Perkuat Sinergi Hadapi Potensi El Nino dan Musim Kemarau 2026
BRMP Bengkulu dan BMKG Perkuat Sinergi Hadapi Potensi El Nino dan Musim Kemarau 2026
Senin, 6 April 2026, Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bengkulu melaksanakan rapat koordinasi bersama BMKG Bengkulu dalam rangka penyampaian informasi perkembangan El Nino dan prakiraan musim kemarau Tahun 2026 di Provinsi Bengkulu. Kegiatan yang berlangsung di Aula Gading Cempaka BRMP Bengkulu ini dihadiri oleh Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Bengkulu (Shannora Yuliasari), serta Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu (Luhur Tri Uji Prayitno) dan Kepala Stasiun Meteorologi Fatmawati (Tri Widianto). Dalam sambutannya, Kepala BRMP Bengkulu menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin serta berharap BMKG dapat bergabung dalam forum komunikasi swasembada pangan Provinsi Bengkulu guna mendukung penyampaian informasi cuaca dan iklim secara berkala sebagai langkah antisipasi bagi petani.
Selain itu, disampaikan bahwa BRMP Bengkulu memiliki peran dalam proses verifikasi usulan CPCL bantuan pemerintah yang mencakup benih, alsintan, serta sarana produksi lainnya. Dalam paparannya, Kepala Stasiun Klimatologi Bengkulu menjelaskan bahwa fenomena ENSO diprediksi berada pada kondisi netral hingga pertengahan Tahun 2026, kemudian berpotensi berkembang menjadi El Nino lemah hingga moderat pada semester II dengan peluang sekitar 50–80%. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang dan kering dibandingkan kondisi normal, dengan awal musim kemarau di Bengkulu diperkirakan terjadi pada bulan Juni, puncaknya pada Juli hingga Agustus, serta durasi berkisar antara 70–120 hari di beberapa wilayah.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Fatmawati menyampaikan bahwa BMKG secara rutin memberikan peringatan dini cuaca, termasuk informasi potensi cuaca ekstrem hingga tiga hari ke depan. Curah hujan tinggi yang masih terjadi di beberapa wilayah Bengkulu dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer, tingginya kelembaban udara, serta adanya pertemuan angin (konvergensi) yang memicu pertumbuhan awan hujan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi terkait langkah mitigasi dampak iklim terhadap sektor pertanian guna mendukung percepatan swasembada pangan di Provinsi Bengkulu.